Showing posts with label Sahabat Rasulullah saw. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Rasulullah saw. Show all posts

Thursday, May 26, 2011

kerana tidak menjadi yg ke-tiga

Seorang pemuda datang membawa hajat setinggi gunung untuk menyunting anak dara sunti, puteri kepada seorang peladang yang berjaya. Peladang itu merenung pemuda mencari kepastian pada wajah anak muda yang bercita-cita menjadi menantunya itu. Dengan tenang dia berkata:

- Wahai anakku, kamu pergi ke ladang dan berdiri di sebelah kandang. Aku akan melepaskan tiga ekor lembu jantan satu demi satu. Sekiranya kamu dapat menangkap ekor salah seekor lembu-lembu itu, kamu dapat berkahwin dengan anakku.

Pemuda itu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh peladang dan berdiri menunggu lembu jantan seperti yang diminta.

Peladang membuka pintu kandang, maka keluarlah seekor lembu jantan paling besar dan paling buas yang pernah dilihat dalam hidupnya. Hatinya berkata, lebih baik dia tunggu lembu jantan kedua yang mungkin lebih mudah untuk ditangkap ekornya daripada lembu besar yang ganas ini. Dia berundur beberapa tapak membiarkan lembu itu melintasinya dan berlalu pergi. Kemudian peladang membuka kandang sekali lagi. Pemuda tercengang. Dia nampak sesuatu yang hampir-hampir tidak boleh diterima akal! Di hadapannya seekor lembu jantan yang lebih besar dan lebih ganas daripada yang pertama tadi. Lembu jantan itu melompat-lompat sambil mengeboo dengan suara yang nyaring. Air liur meleleh dari mulutnya sedang matanya tepat merenung ke arah pemuda itu. Sekali lagi pemuda itu berundur. Dia berazam, apapun rupa dan keadaan lembu jantan ke tiga, hatta lebih teruk daripada yang ini dia pasti akan akan menangkap ekornya. Dan lembu jantan itupun berlalu.

Peladang membuka kandang buat kali ke tiga. Pemuda tersenyum ceria apabila terpandang lembu jantan yang kurus, lemah tak bermaya. Sesungguhnya inilah lembu jantan paling sesuai untuk ditangkap ekornya. Pemuda membetulkan keadaan, bersiap sedia untuk menangkap ekor lembu jantan yang sedang memulakan langkahnya untuk keluar dari kandang.
Namun, malang bagi si pemuda. Rupa-rupanya lembu jantan itu kudung, ekornya tidak ada!

Itulah. Kadang-kadang kita gagal bukan kerana tidak ada peluang, tapi kerana tidak merebut peluang. Hal ini pernah terjadi pada seorang sahabat yang bernama Asy’ath bin Qais.

Asy’ath bin Qais datang ke Mekah pada permulaan nubuwwah (Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul) untuk menjalankan perniagaa. Ketika sedang rancak berurusniaga dengan al-‘Abbas bin Abdul Muttalib, waktu itu matahari sudah condong ke barat, dia terpandang seorang lelaki berdiri di suatu tempat. Sebentar kemudian dia nampak seorang kanak-kanak datang dan berdiri di sebelah lelaki itu dan diikuti pula dengan seorang perempuan yang berdiri di belakang mereka berdua. Asy’ath bin Qais bertanya kepada al-‘Abbas:
- Siapa lelaki itu?
- Anak saudaraku, Muhammad.
- Siapa kanak-kanak itu?
- Anak suadaraku juga, Ali.
- Perempuan itu?
- Isteri Muhammad, Khadijah binti Khuwailid.
- Apa yang sedang mereka lakukan?
- Mereka mengerjakan solat. Anak saudaraku itu mendakwa dia seorang Nabi. Suatu hari nanti dia akan menguasai kerajaan Rum dan Parsi. Adakah kamu ingin berbicara dengannya?
- Tak mengapa. Mari kita teruskan urusan jual beli kita.

20 tahun kemudian, Asy’ath bin Qais memeluk Islam ketika Fathu-Makkah. Sambil menangis beliau mengucap dua kalimah syahadah di hadapan Nabi s.a.w.
Nabi berkata kepada Asy’ath bin Qais, “Tahukah engkau wahai Asy’ath, sesungguhnya Islam menghapuskan semua kejahatan yang lalu?” Asy’ath menjawab, “Aku menangis bukan kerana bimbangkan dosaku yang lalu, tapi aku menyesal kerana aku telah didatangi peluang untuk menjadi orang ketiga mengikutimu dulu, namun aku menolaknya. Aduhai, alangkah bertuahnya kalau aku datang kepadamu dan mendengar!”

Full credit to: ustazah maznah

Wednesday, May 25, 2011

Seperti ukhti ini...

Jadikan daku seperti dirinya Ya Allah! : Tribute to Allahyarhamah Ibunda Yoyoh Yusrah

Saat semangat hampir tiris mengenangkan kelelahan menguruskan keluarga, bergelumang dengan buku-buku dan jurnal akademik, bergulat dengan tugasan di sekolah dan program-program dakwah, teringat kehebatan seorang ukhtie ini..yang tidak pernah surut semangat dan penghayatannya...sayangnya, dia
sudah kembali mengadap Kekasihnya yang abadi...dijemput Allah pulang dalam perjalanan hendak menghadiri konvokesyen anaknya...dibandingkan dengan diriku yang kerdil, aku terlalu kecil Ya Allah...

Anak-anakku cuma 3 orang, sedangkan ukhtie ini melahirkan 13 orang jundullah yang hebat...seorang ibu yang tidak pernah punyai pembantu, seorang isteri yang tabah dan sentiasa optimis dengan kerja dakwah..di medan masyarakat beliau adalah anggota dewan parlimen mewakili parti PKS..pernahkah beliau mengeluh? tak pernah sama sekali...malah ukhtie ini merasakan dirinya terlalu kerdil dibandingkan dengan wanita2 Palestine yang mampu melahirkan dan membesarkan lebih ramai anak2 pewaris perjuangan walaupun dalam keadaan negara sedang bergolak..ukhtie ini hafal sehingga 20 juzuk Quran, tetapi masih terasa diri jauh terkebelakang daripada wanita2 Palestin yang rata-ratanya adalah hafidzah 30 juzuk Quran...

Di saat diri kelelahan melayan keletah anak-anak
yang sedang membesar, diri disapa semangat ketika mengingatkan pesanan ukhtie ini bahawa kita sebenarnya sedang berhadapan dengan pewaris perjuangan dakwah...bersabarlah..bersabarlah...malah, tanggapan optimis ukhtie ini terhadap perkahwinan dalam dakwah membuatkan diri menepis tanggapan negatif yang menyalahkan perkahwinan pada awal usia...katanya,

"Berbicara mengenai visi pernikahan, visi pernikahan itu adalah visi da'wah. Sehingga apabila visi pernikahan telah menjadi visi da'wah, apapun masalah yang tengah dihadapi oleh keluarga kita, masalah itu tidaklah terlalu besar bila dibandingkan dengan masalah umat. Maka keluarga itu tidak akan memperumit masalah-masalah kecil.”

“Bagaimana dengan menunda pernikahan?”

“Ternyata apabila menunda pernikahan, maka akan menunda kelahiran dan kebangkitan umat, menunda pernikahan akan menghambat pertumbuhan atau penambahan umat-umat yang berkualitas.
Bukankah Rasul senang dengan umat yang banyak dan berkualitas. Dan bukankah kita rindu dengan lahirnya kembali kepemimpinan Islam dan Islam menjadi soko guru seluruh alam ?”

UKhtie ini juga sering mengingatkan para wanita supaya menjaga pemakanan kerana katanya,

"Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib”

Siapa kata kelelahan menguruskan anak-anak kecil menghalang diri daripada bangun beribadah pada malam hari? Jika anak kecil sering menangis kerana takut ditinggalkan ibu yang bangun bertahajjud? Apa kata ukhtie ini?

“Insya Allah masih bisa ukhti…Yang namanya bayi, ya tugasnya memang nangis. Malah kita khawatir kalau dia tidak bisa menangis tapi anteng terus. Nah,
anti bisa siapkan bayi dulu dengan memmbersihkan dari najis, terus dipasang pampers, lalu menyempatkan diri wudhu sebentar. Saatnya sholat, gelarlah kasur kecil di samping sajadah kita dan taruh bayi di situ. Kalau dia menangis, jangan panik dulu, tetap teruskan sholat. Tapi kalau terlihat tanda-tanda nangisnya tak mau berhenti, gendonglah dia sambil sholat. Insya Allah dalam dekapan si ibu, dia akan tenang kembali. Sekaligus ini memberikan tarbiyah ruhaniyah padanya, sejak kecil sudah merasakan dan menyaksikan ibunya selalu bangun untuk sholat lail di sepertiga malam”. Masya Allah! Luar biasa sekali!

Aku berazam mencontohinya ya Allah..bangun bertahajjud untuk setiap anak-anakku..dan kurniakan dirinya pahala jariah ini...kerana dia menjadi sumber inspirasiku...

Beberapa hari sebelum dijemput pulang menghadap Ilahi, ukhtie ini mengirimkan sms berikut terhadap temannya:

“Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita, Khadijah Al-Qubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah yang dibela Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa) dan qawwahmahnya (rajin sholat malam)? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500-an hadits, sedang aku… ehm, 500 juga belum. Atau dengan Ummu Sulaim yang shabirah (penyabar). Atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad. Atau dengan siapa ya Allah? Tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di Taman Firdaus-Mu”.

Sungguh dia sudah terasa ajalnya hampir tiba...

Mulianya dia ya Allah...ganjari dia dengan segala rahmat antara rahmat atas segala kebajikan yang pernah
disumbangkannya...hari ini kita kehilangan seorang Ukhtie bernama Yoyoh Yusrah...semoga pada masa akan datang, kita mampu lahirkan ribuan akhwat sepertinya sebagai penerus perjuangan dakwah...akan merindui setiap langkah perjalanannya...

Al-Fatihah (Ibunda Yoyoh kembali ke Rahmatullah pada 21 Mei 2011 yang lalu kerana terlibat dalam satu kemalangan)

Monday, May 23, 2011

Aku ingin jadi seperti siapa?

“Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita, Khadijah Al-Qubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah yang dibela Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa) dan qawwahmahnya (rajin sholat malam)? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500-an hadits, sedang aku… ehm, 500 juga belum. Atau dengan Ummu Sulaim yang shabirah (penyabar). Atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad. Atau dengan siapa ya Allah? Tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di Taman Firdaus-Mu”. (ukhti yoyoh, 2011)

Sungguh teruja dengan semangat dan fikrah ukhti ini... (untuk mengetahui lebih lanjut ttg beliau, baca post yg seterusnya eh). kadang-kadang ajal dan maut itu, tidak akan datang mengundang dengan karpet merah. Ada sesetengah dari kita yang seorang yg kuat beribadah tetapi di saat malaikat maut datang mengambil nyawa,kita melakukan maksiat dengan hati yg kotor, ada juga sesetengah yg sering melakukan maksiat, tetapi di saat malaikat maut menjemput, dia sujud bertaubat kerana merasa hina akan segala dosa dan maksiat yg dilakukan. Ada juga golongan yang ke tiga di mana disetiap perjalanan hidupnya, dia istiqamah dalam melakukan ibadah, istiqamah dalam melakukan kebaika, dan sentiasa ikhlas dalam setiap amanannya...

Lihat juga pada statement ukhti ini, sebagai seorang wanita, dia melaksanakan sunnah yg diajarkan oleh Rasulullah saw, tetapi, dia juga mengambil contoh teladan dari segi praktikalnya dari para sahabiyyah, seperti, Siti Khadijah, Hafsa Umar, Aisyah Abu Bakar, Ummu Sulaim dan Asma. Apa kelebihan para sahabiyyah ini? Mesti terdapat kisah yang tersirat di sebalik sahabiyyah-sahabiyyah yang dikasihi Allah swt ini. InsyaAllah, jik ada kelapangan yang diberikan oleh Allah swt, akan ana ceritakan ye... =)

Kita pula ingin jadi seperti siapa?

Thursday, February 24, 2011

andaikata...




jom kita check-up iman.

sekiranya kita tidak ingat apa-apa dalam ceramah / usrah melainkan kelakar dan keletihan, mari kita periksa diri masing-masing.
Adakah aku telah benar-benar beriman sebagaimana orang yang beriman telah benar-benar beriman? Kita belum belum beriman seperti orang yang telah beriman. Kita Islam hanya pada nama, mengakui cinta kita pada Rasulullah saw, tetapi cita-cita tiada dalamm cita-cita untuk diamalkan.

Apakah sunnah yang terbesar?
Ini lah dia:

andai kata setiap langkah yang Rasulullah saw berjalan akan tumbuh rumput, maka seluruh Mekkah dan Madinah akan dipenuhi rumput. Kerana Rasulullah saw selalu berDAKWAH dari lorong ke lorong, pintu ke pintu, kabilah ke kabilah dan hati ke hati.




"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-Mu Dia-lah yang lebih Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk" (Al-Nahl: 125)

Thursday, February 10, 2011

선생님과 학생


did you know what is the sweetest thing in the world?
it is not when we are eating sweets,
neither when our boyfriend/girlfriend give us presents/surprise,
but it is when you feel the sweetness of iman that you wanted to share with the one that you love, and to share with the one that you wanted to be with in the heaven. insyAllah.

so, I have a story to share with all of you. Allow me to speak in Malay:

Diceritakan pada suatu hari seorang yang soleh bernama Syaqiq Al Balkhi bertanya kepada seorang muridnya, Hatim Al Asamm :

"Berapa lamakah kamu duduk belajar bersamaku?"

"33 tahun," jawab Hatim.

"Dan apakah yang kamu telah pelajari daripadaku selama masa itu?"

"Lapan perkara," kata Hatim.

Syaqiq berseru, "Kita adalah dari Allah dan kita akan kembali kepadaNya!"

"Kamu telah pergunakan seluruh kehidupan kamu denganku dan hanya belajar lapan perkara!!!!

Apakah perkara-perkara itu?

PERTAMA :

Jawab Hatim :

"Pertama sekali, saya melihat kepada manusia dan saya dapati setiap mereka mencintai sesuatu dan meneruskan usaha untuk mendapatkan apa yang dicintai itu. Apabila dia sampai ke kubur, apa yang dicintai selama ini meninggalkannya.

Oleh itu saya membuat bekalan amal kebaikan sebagai perkara yang saya cintai kerana apabila saya memasuki kubur, amal-amal kebaikan ini akan masuk bersama saya."

Syaqiq berkata, "Kamu telah lakukan yang terbaik. Apakah perkara yang kedua?"

KEDUA :

"Perkara yang kedua ialah apabila saya memikirkan ayat-ayat Allah Yang Maha Agung.”

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya.” (QS An Naazi’aat : 40 – 41)

Mengetahui bahwa ayat-ayat Allah ini benar, saya berusaha bersungguh-sungguh terhadap diri saya untuk menahan keinginan-keinginan saya sekuat-kuatnya sehingga saya bergantung sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Agung.

KETIGA :

Perkara ketiga ialah apabila saya melihat kepada manusia dan saya mendapati setiap mereka mempunyai sesuatu yang berharga yang membuatkan mereka menghargai dan menjaganya dengan baik.

Kemudian saya meneliti ayat-ayat Allah Yang Maha Agung :

“Apa yang ada disisimu akan lenyap dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal.” (QS An Nahl : 96)

Oleh itu apabila sesuatu yang berharga datang kepadaku, saya akan serahkannya kepada Allah Yang Maha Agung supaya ianya akan disimpan oleh Allah untukku.

KEEMPAT :

Perkara keempat ialah apabila saya melihat kepada makhluk-makhluk Allah dan saya dapati kesemua mereka meletakkan nilaian yang tinggi terhadap :

Harta.
Harga diri.
Maruah.
Keturunan.
Maka saya memerhatikan perkara-perkara tersebut dan mendapati tiada apa-apa yang bererti padanya.

Kemudian saya meneliti ayat-ayat Allah Yang Maha Agung :

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al Hujuraat : 13)

Oleh itu saya meletakkan ketakutan saya kepada Allah sepenuhnya supaya saya akan dipandang tinggi pada kacamata Allah swt.

KELIMA :

Perkara yang kelima ialah apabila saya melihat kepada manusia dan saya dapati sebahagian mereka menyerang peribadi sebahagian lain dan sebahagiannya pula mengutuk sebahagian yang lain dan saya sedar bahwa sebab utama yang berlaku demikian ialah kerana dengki.

Kemudian saya meneliti ayat-ayat Allah Yang Maha Agung :

“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS Az Zukhruf : 32)

Oleh itu saya meninggalkan sifat dengki dan permusuhan terhadap makhluk-makhluk dengan kesedaran bahwa apa-apa yang telah ditetapkan untuk saya adalah mutlak dan akan sampai kepada saya.

KEENAM :

Perkara yang keenam ialah apabila saya melihat manusia berlawan dan bermusuh sesama mereka. Saya mencari-cari dan akhirnya mendapati bahwa musuh sebenar saya adalah syaithan dan benarlah Allah Yang Maha Agung berfirman :

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS Faathir : 6)

Oleh itu saya menjadikannya sebagai musuhku dan menyayangi yang selain darinya.

KETUJUH :

Perkara yang ketujuh ialah apabila saya melihat kepada manusia dan mendapati mereka mencari kekayaan secara berlebihan dan menghinakan diri mereka kerananya. Saya meneliti ayat-ayat Allah Yang Maha Agung :

“Dan tidak ada satu pun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud : 6)

Saya sedar bahwa saya adalah salah seorang yang dikurniakan sesuatu oleh Allah justeru saya menyibukkan diri saya dengan Allah Yang Maha Agung dan meninggalkan segala sesuatu selain dariNya.

KELAPAN :

Perkara yang kelapan ialah apabila saya melihat kepada manusia dan mendapati mereka bergantung kepada berbagai perkara seperti :

Perniagaan mereka.
Jawatan mereka.
Kekayaan mereka.
Setiap makhluk bergantung kepada makhluk yang lain!!!!

Saya kemudian meneliti ayat-ayat Allah Yang Maha Agung :

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS At Thalaq : 3)

Oleh kerana itu saya meletakkan keyakinan saya sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Agung.

Akhirnya Syaqiq berkata :

"Hatim, sesungguhnya Allah telah mengurniakan kepada kamu keuntungan dan tidak ada kerugian bagi kamu sedikitpun. Dia memberi hikmah kepada siapa sahaja yang dikehendakiNya."

Demikianlah secebis kisah orang-orang yang soleh dan bagaimana mereka melihat kehidupan dunia ini dan cara-cara untuk berinteraksi dengannya secara yang benar sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah berdasarkan ayat-ayat Allah di dalam Al Qur'an yang mulia.

Akhir sekali marilah kita sentiasa meneliti dan mengambil i'tibar yang sewajarnya terhadap ayat-ayat Allah yang sebanyak 6,666 ayat yang terdapat di dalam Al Qur'an dan cuba untuk memahami dan melaksanakan perintah-perintahNya sehingga Al Qur'an itu benar-benar menjadi rujukan dan panduan hidup kita kerana kita tidak akan sesat selama-lamanya selagi kita mengambil dari sumber airnya yang bersih dan jernih yang dapat menghilangkan kehausan keyakinan dan ketenteraman hati sehingga hidup kita benar-benar akan terasa nikmat dan mendapat keridhaan Allah swt.

Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an ini sebagai pembimbing kami sehingga ianya dapat menuntun kehidupan kami ke jalan yang benar dan lurus dan kami mohon kepadaMu supaya kami dapat beristiqamah di atas jalan ini sehingga kami menemuiMu di akhirat nanti.

Ameen Ya Rabbal Alameen

Sunday, January 16, 2011

Saesang106 part 2



Sepanjang hidup bersama Rasulullah saw, Rasulullah saw akan memanggil Anas dengan panggilan manja, Unais atau ada kalanya dengan panggilan Wahai Anakku. Malahan dadanya juga dipenuhi dengan nasihat-nasihat berharga.
"Wahai anakku, jika kamu mampu pada waktu pagi dan petang tidak berdendam dengansesiapa, lakukanlah. Wahai anakku, itu merupakan sunnahku. Maka, Sesiapa yang menghidupkan sunnahku,dia mencintaiku. Sesiapa yang mencintaiku, dia akan bersamaku di syurga. Wahai anakku, jika kamu pulang bertemu keluargamu, berikanlah salam kepada mereka, kerana ia akan membawa keberkatan kepadamu juga keluargamu."


Lebih 80 tahun Anas bMalik hidup selepas kewafatan Rasulullah saw. Dan sepanjang masanya hidup di dunia, beliau telah mengisi dada-dada para sahabat dantabien dengan ilmu yang beliau peroleh dari Rasulullah saw. Fikiran mereka dipenuhkan dengan fiqh nubuwwah, dan dihidupkan juga perasaan sahabat dan tabiien dengan sabda dan keperibadian Rasulullah saw. Anas bin Malik juga menjadi tempat tumpuan bagi merujuk pada hukum-hukum yang kurang pasti atau tidak difahami. Malahan, pandangannya juga dipegang oleh para sahabat dan tabieen.

Anas b Malik hidup dengan memori bersama-sama Rasulullah saw. Beliau gembira apabila kali pertama berjumpa dengan Rasulullah saw dan menitiskan air mata ketika saat-saat kewafatan Rasulullah saw. Anas mencintai apa yang dicintai Rasulullah saw dan membenci apa yang dibenci Rasulullah saw. Malahan Anas sering kali mengulang kata-kata ini:

"Sesungguhnya saya telah melihat wajah Rasulullah saw para hari ketika baginda masuk Madinah dan saya juga melihat Baginda pada hari ketika baginda diambil dapipada kami, Pada saya, tiada hari yang setanding dengan dua hari tersebut. Pada hari Baginda masuk MAdinah, seluruh MAdinah bersinar. Manakala, tatkala hari Baginda menghadap Ilahi, gelap seluruh Madinah."

Betapa sayang dan kasihnya Rasulullah saw kepada Anas b Malik. Baginda beberapa kali pernah mendoakan Anas b Malik dengan doa ini:
"Ya Allah, kurniakanlah kepadanya harta dan anak. Berkatilah dia"

SubhanAllah, di Madinah, Anas b Maik merupakan orang yang paling kaya dan mempunya zuriat yang sangat ramai. Cucunya lebih 100orang dan hidupnya selama 103 tahun, penuh dengan barakah. Dengan ini, Anas b Malik pernah menyatakan hasratnya:
"Sesungguhnya saya berharap dapat bertemu Rasulullah saw pada hari kiamat. Saya akan katakan pada Baginda: 'Wahai Rasulullah saw, ini khadam kecilmu: Unais'"

Ketika Anas b Malik menghembuskan nafas-nafasnya yang terakhir, beliau meminta pada ahli keluarganya untuk mengajarkan kepadanya:
La ilaha illAllah, Muhammadurrasulullah
dan beliau terus melafazkannya sehinggalah beliau meninggal dunia.

Semoga Khadam Kecil Rasulullah saw yang sentiasa mencintai Rasulullah saw, akan berada di samping Rasulullah saw di akhirat kelak sepertimana yang telah dihasratkannya. Dan semoga kita juga bersama-sama dengan Rasulullah saw dan orang-orang yang mencintai Baginda di akhirat nanti. InsyAllah.

Sepertimana yang telah Rasulullah saw mengatakan kepada kita, sesiapa sahaja yang mencintainya, pasti akan bersamanya di dalam syurga nanti. Maka, amalkanlah sunnah Rasulullah saw, dan marilah kita semua mencintai baginda, selepas Allah saw, melebihi dunia dan segala apa yang ada di dalamnya. Kerana tujuan kita bukanlah hanya hidup di dunia, tetapi adalah kehidupan di Akhirat, bersama-sama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi. InsyAllah....

Saturday, January 15, 2011

Saesang106 part 1




“Ketahuilah! Sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada kebimbangan (dari sesuatu yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita. (Wali-wali Allah itu ialah) orang-orang yang beriman serta mereka pula sentiasa bertakwa. Untuk mereka sahajalah kebahagiaan yang menggembirakan di dunia dan di akhirat; tidak ada sebarang perubahan pada janji-janji Allah, yang demikian itulah kejayaan yang besar.” [Yunus 10:62-64]

Ya Allah, Sesungguhnya aku mencintai para sahabat Nabi-Mu Muhammad saw, sebenar-benar dan sedalam-dalam cinta. Maka serahkanlah aku kepada mereka untuk memperoleh syafaat mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Maha Mwngetahui bahawa aku mencintai mereka keranaMu, wahai Tuhan yang Maha Mengasihani.

Rasulullah saw beberapa kali pernah berdoa:
"Ya Allah kurniakanlah kepadanya harta dan anak. Berkatilah dia."

Siapakah sahabat yang bertuah ini? Sehingga Rasulullah saw mendoakan dia?

Rasulullah saw sentiasa memanggilnya dengan nama Unais (comel dan mesra kan?). Dia hidup di bawah jagaan Rasulullah saw selama genap 10 tahun, dan baliau juga merupakan perawi yang ke-3 terbanyak meriwayatkan hadith, selepas Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar.

Dialah Anas bin Malik Al-Anshori.

Ibunya bernama Ghumaisho' binti Milhan. Yang merupakan seorang wanita yang berjaya untuk mendidik anaknya, sehinggakan Anas telah mengucap dua kalimah syahadah pada waktu yang masih kecil lagi. Anas sentiasa ditanam di dalam dadanya, rasa cinta kepada Rasulullah saw. Maka, apabila terdapat berita atau cerita mengenai Rasulullah saw, Anas akan sentiasa rasa cinta dan rindu pada Rasulullah saw. Malahan, Anas juga bercita-cita untuk menjejaki RAsulullah saw di Mekkah.

Setiap kali berita perihal kedatangan Rasulullah saw dan sahabatnya Abu Bakar as siddiq ke Madinah, setiap pagi, anak-anak kecil akan berteriak riang bahawa RAsulullah saw datang, tapi mereka sentiasa pulang dengan kecewa dan sedih, apabila tidak melihat kelibat Rasulullah saw mahupun Abu Bakar as siddiq.



Namun, pada suatu pagi yang berembun segar dan suasana yang tenang berseri, terdengar orang berlaung "Muhammad dan sahabatnya telah hampir sampai dengan Yathrib". Suasana menjadi seronok dan penuh dengan kegembiraan. Semia penduduk Yathrib terasak-asak ingin melihat dan menyambut mesra akan kedatangan Rasulullah saw.

Sementara Rasulullah saw berada di Yathrib, pada suatu hari, Ghumaisho' binti Milhan, yakini Ibu Anas bin Malik bertemu dengan Rasulullah sambil membawa seorang anak kecil yang berlari-lari riang dan rambutnya juga terjurai pada dahinya. Setibanya di hadapan Rasulullah saw, Ghumaisho' memberi salam dan berkata:

" Wahai Rasulullah, semua lelaki dan wanita Anshor telah memberi hadiah kepada tuan, namun, saya tiada apa-apa uangboleh saya hadiahkan selain anak saya ini. Ambillah dia. Dia akan berkhidmat untuk tuan, dan mengikut apa sahaja yang tuan mahu"

Rasulullah saw amat gembira dan menyambut anak tersebut dengan tersenyum manis. Baginda mengusap-usap kepala Anas. Rasulullah saw menyentuh anak rambut Anas dengan hujung jarinya, lalu Baginda menjadikannya sebahagian daripada anggota keluarga baginda.

Anas bin Malik mula berkhidmat dengan Rasulullah saw sejak umurnya 10 tahun dan hidup dengan baginda genap 10 tahun lagi. Selama masa itulah, tegukan pertama hidayah yang berjaya membersihkan dirinya. Anas peka dengan hadis Rasulullah saw dan didikan-didikan tersebutlah yang memenuhi dada Anas. Beliau mengetahui keadaan, kisah, rahsia dan sifat mulia Baginda yang tidak diketahui oleh orang lain. Anas dilayan baik olehRasulullah saw hinggakan anak baginda sendiri pun tidak dapat merasai layanan sebegitu daripada bapanya.

Anas bin Malik pernah menggambarkan hidupnya bersama Rasulullah saw:

Rasulullah saw merupakan manusia yang paling berakhlak mulia, amat berlapang dada dan terlalu penyayang.
Suatu hari, Baginda meminta Anas pergi menyelesaikan satu urusn. Lalu Anas pun keluar. Sedangkan ketika itu, Anas pergi bermain dengan rakan sebayanya di pasar. Maka Anas tidak pergi ke tempat yang Rasulullah maksudkan. Sesampainya Anas ke tempat rakan-rakannya, Anas merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Dia memegang baju Anas. Anas pun berpaling dan melihar Rasulullah tersenyum dan berkata "Wahai Unais, adakah kamu telah pergi ke tempat saya suruh tadi?"
Anas rasa bersalah dan berkata: "Baiklah, saya akan pergi sekarang juga wahai Rasulullah."
Dan selama hidup dengan Rasulullah saw, Rasulullah saw tidak pernah menanyakan pada Anas, mengapa buat begini,dan mengapa tidak buat begini?.

to be continued....

Saturday, November 20, 2010

kisah yang penuh erti

kerana ini memberi 101 erti kehidupan...
erti iman,
erti taqwa,
erti susahnya jalan ini,
tetapi erti manisnya semua yang disusun Allah swt



Dikutip dari Terjemah Durrotun Nasihin.
Tujuannya adalah berbagi hikmah dari kisah yang disampaikan.

SEMOGA BERMANFAAT

Bismillahirrohmanirrohim

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah
Kusempurnakan nikmatKu kepadamu serta telah Kuridhai Islam sebagai
agamamu” (Al-Maa’idah : 3)

Mendengar ayat ini menangislah Umar ra.
Nabi SAW bertanya : ”Apakah yang membuatmu menangis?”
Umar ra menjawab : ”Yang membuatku menangis adalah kalau kita selama
ini selalu bertambah-tambah dalam agama kita. Tetapi kalau sekarang
agama itu telah sempurna, maka sesuatu yang sudah sempurna tidak bisa
lain kecuali dia akan berkurang”
Nabi bersabda : ”Benar engkau!” (Abus Su’ud)

Telah diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan setelah Ashar hari Jum’at
di Arafah pada Haji Wada’. Waktu itu Nabi Muhammad SAW sedang
mengerjakan wukuf di Arafah diatas unta, dan setelah ayat ini tidak
lagi turun ayat tentang kewajiban.
Ketika turun ayat ini Nabi Muhammad SAW merasa tidak kuat menanggung
arti dari ayat tersebut. Beliau bertelekan (bersandar) pada untanya dan
unta pun tertunduk.

Turunlah Malaikat Jibril dan berkata :”Ya Muhammad, benar-benar telah
sempurna hari ini perihal agamamu dan telah selesai apa yang telah
diperintahkan Tuhanmu kepadamu, dan apa yang dilarangNya padamu.
Kumpulkan sahabat-sahabatmu dan kabarkan pada mereka bahwa aku tidak
akan lagi turun kepadamu setelah hari ini.”
Lalu kembalilah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Dikumpulkannya
sahabat-sahabatnya dan dibacakannya ayat tersebut kepada mereka serta
menceritakan kepada mereka tentang apa yang dikatakan oleh Jibril AS.

Mendengar berita tersebut bergembiralah para sahabat dan mereka berkata :“Telah sempurna Agama kita”
Kecuali Abu bakar ra. Dia sangat bersedih dan kembali kerumahnya. Dia
mengunci pintu dan tenggelam dalam tangisnya siang malam. Para sahabat
mendengar keadaan Abu Bakar itu, mereka berkumpul dan mendatangi rumah
Abu Bakar ra.

Mereka bertanya : ”Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis pada
saat kita harus bergembira dan senang? Karena Allah SWT telah
menyempurnakan Agama kita.”
Abu Bakar berkata : ”Hai para Sahabat,
kamu semua tidak mengetahui bencana yang akan menimpamu.
Bukankah kamu mendengar bahwa suatu perkara apabila telah sempurna maka
akan muncul kekurangannya? Ayat ini mengabarkan tentang perpisahan
kita, tentang keyatiman Hasan dan Husain dan tentang Istri-istri Nabi
Muhammad SAW yang akan menjadi janda.”

Maka terjadilah teriakan diantara para sahabat, mereka semua menangis,
dan Sahabat-sahabat lain yang tidak ikut hadir dirumah Abu Bakar
mendengar tangisan dari kamar Abu Bakar, lalu mereka datang kepada Nabi
Muhammad SAW, dan mereka berkata :”Ya Rasulullah, kami tidak tahu bagaimana keadaan para sahabat itu, hanya saja kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”

Maka berubahlah wajah Nabi Muhammad SAW dan berdiri segera menuju rumah
Abu Bakar dan bertemu para sahabat. Beliau melihat mereka dalam keadaan tersebut diatas,
Kemudian bersabda : ”Apakah yang membuat kamu menangis?”
Berkatalah Ali ra.: ”Tadi Abu Bakar berkata, Aku telah mencium bau wafat Rasulullah SAW dari
ayat ini. Apakah benar ayat ini dapat diambil sebagai petunjuk atas wafatmu?”.
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Benar Abu Bakar dalam ucapannya itu. Memang benar telah dekat keberangkatanku dari hadapanmu dan telah tiba saat perpisahanku dengan kamu semua.”
Setelah Abu Bakar ra. mendengar sabda Rasulullah itu berteriaklah dia sekeras-kerasnya dan jatuh tak sadarkan diri.

Ali ra. bergetar tubuhnya dan para sahabat lain menjadi ribut, mereka
ketakutan semuanya dan menangis sejadi-jadinya, hingga gunung-gunung
dan batu-batu ikut menangis bersama mereka, demikian pula para
Malaikat. Ulat-ulat dan binatang-binatang darat maupun di laut,
semuanya ikut menangis.

Kemudian Nabi Muhammad SAW berjabatan dengan para setiap orang dari
para sahabat, berpamitan dan menangis serta memberi wasiat kepada
mereka. Kemudian Beliau hidup setelah turunnya ayat tersebut dalam
delapan puluh satu hari.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi
Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada
manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat
Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan
shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar,
memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.
Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.

Kemudian Beliau bersabda :

”Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu,
pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan
aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan
sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu
yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia
berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari
kiamat.”

Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau
bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri
seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.
Berdirilah dia didepan Nabi Muhammad SAW dan berkata : “Demi
Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak
mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan
sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar.
Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan
mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu
mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar
cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu
atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya
Rasulullah?”.

Rasulullah bersabda: ”Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu."
Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: ”Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”

Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya:
”Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”

Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: ”Siapa yang ada di depan pintu?”
Bilal menjawab: ”Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”
Fathimah bertanya : ”Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”
Bilal menjawab: ”Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash."
Fathimah bertanya lagi: ”Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta
memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian
menyerahkannya kepada Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata : ”Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”
Bersabdalah Rasulullah SAW: ”Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”

Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: ”Hai Akasyah, aku
masih hidup didepan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau
engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah
aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”

Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata : ”Hai
Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang
cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas
kepada Rasulullah.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Duduklah engkau berdua wahai kegembiraan mataku.”
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”

Akasyah berkata: ”Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”

Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.

Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menubruknya, merangkuli badan Rasulullah dan menciumnya sambil merintih
Berkatalah dia:

”Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk
membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar
tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara
aku berkat kehormatanmu dari neraka.”
Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: ”Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”

Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata : ”Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.”
Ya Allah, mudahkanlah kepada kami untuk mendapatkan syafa’atnya, berkat keagungan dan kemegahanMu
(Dari Mau’idhatul Hasanah)

Ibnu Mas’ud berkata: ”Ketika dekat wafat Nabi Muhammad SAW
berkumpullah kami di rumah Ibu kita Aisyah. Kemudian Beliau memandang
kami dan bercucuranlah air matanya.

Beliau bersabda:
”Marhaban bikum rahimakumullah” (selamat datang kamu semua, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu) aku berwasiat kepada kamu agar takwa kepada Allah dan taat kepadaNya. Telah dekat perpisahan dan telah tiba kembali kepada Allah dan ke surga Al-Ma’waa. Hendaklah nanti Ali yang
memandikan aku, Al-Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin
Zaid yang membantu keduanya. Kafanilah aku dengan pakaianku sendiri
kalau kamu mau, atau dengan pakaian buatan Yaman yang putih. Jika kamu
sudah memandikan aku letakkanlah aku di tempat tidurku didalam kamarku
ini di tepi liang lahadku. Kemudian keluarlah meninggalkan aku sesaat.
Karena pertama-tama yang menshalatkan aku adalah Allah Azza wa Jalla,
kemudian Jibril, kemudian Israfil, kemudian Mika’il, kemudian Malaikat
Maut beserta anak buahnya, kemudian semua Malaikat yang lain. Setelah
ini barulah kamu masuk sekelompok demi sekelompok dan shalatkanlah aku.”
Setelah mereka mendengar kata perpisahan Nabi Muhammad SAW ini mereka berteriak seraya menangis.

Mereka berkata:
”Ya Rasulullah, engkau adalah Rasul kami
dan kepala kumpulan kami. Serta penguasa perkara kami. Jika engkau
harus pergi, lalu kepada siapakah nanti kami akan kembali dalam
menghadapi kesulitan?”

Nabi Muhammad SAW bersabda :
”Aku tinggalkan kamu pada jalan kebenaran dan jalan
yang bersinar dan aku tinggalkan untuk kamu dua penasehat: Yang
berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Al-Qur’an, sedang yang
diam adalah kematian. Apabila ada sebuah kesulitan pada kamu maka
kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan apabila hatimu keras
membantu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal
kematian.”

[p/s] jzkk pc IK... & jzkk SZS & NIS kerana bersama2 di atas jalan ini =)

Saturday, August 28, 2010

Al-Barra' bin Malik Al-Ansori

credit: dakwah.info



Rambutnya kusut dan berdebu, tubuhnya kurus dan tulang-tulang menonjol, kerempeng dan kulitnya cukup hitam. Orang memandang leceh kepadanya dan segan bertemu dengan dia. Tetapi walaupun begitu, dia telah membuktikan keberaniannya sanggup menewaskan ratusan orang musyrik dalam beberapa kali perang tanding satu lawan satu. Belum termasuk yang ditewaskannya dalam perang berkecamuk.

Sesungguhnya dia pemberani yang pantang mundur. Khalifah umar bin Khattab pernah menulis surat kepada para panglima, supaya tidak mengangkat Al-Barra’ bin Malik menjadi komandan pasukan, karena dikhawatirkan dengan keberaniannya yang luar biasa itu akan membahayakan bagi tentara muslimin.

Al-Barra’ bin Malik adalah saudara kandung Anas bin Malik, khadam Rasulullah. Seandainya diceritakan kisah kepahlawanan Al-Barra’ semuanya, sudah tentu akan menghabiskan halaman yang banyak. Karena itu kita cukupkan sebuah kisah saja, mudah-mudahan dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kisah kepahlawanannya.

Kisah ini terjadi tidak berapa lama sesudah Rasulullah wafat, yaitu ketika beberapa kabilah Arab murtad dari agama Islam secara beramai-ramai, sebagaimana tadinya mereka masuk Islam beramai-ramai. Akhirnya tinggal dalam Islam hanyalah para penduduk Makkah, Madinah, Thaif, dan beberapa kelompok yang terpencar-pencar di sana sini. Mereka orang-orang yang teguh dan mantap imannya.

Khalifah Abu Bakar menghendaki agar ancaman terhadap eksistensi Islam ditanggulangi sampai tuntas. Maka dibentuknya sebelas pasukan tentara, terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Lalu dikirimnya ke seluruh jazirah Arab, untuk mengembalikan orang-orang yang murtad dan atau memerangi siapa yang membangkang.

Kelompok orang-orang murtad yang paling jahat dan besar ialah kelompok Banu Hanifah yang dipimpin Musailamah Al-Kadzdzab. Jumlah mereka tak kurang dari empat puluh ribu orang, terdiri dari prajurit-prajurit tangguh dan berpengalaman perang. Kebanyakan mereka murtad dan mengakui Musailamah karena fanatik kesukuan, bukan karena percaya kepadan kenabian Musailamah.
Sebagian mereka berkata, “Saya tahu Musailamah itu bohong dan Muhammadlah Nabi yang benar. Tetapi kebohongan Bani Rabi’ah (Musailamah) lebih saya sukai daripada kebenaran Bani Mudhar (Muhammad).”

Tentara muslimin yang pertama-tama datang menyerang Musailamah dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan Ikrimah dapat dikalahkan tentara Musailamah, sehingga lari kucar-kacir dan Ikrimah sendiri tewas sebagai syahid.

Sesudah itu dikirim oleh Khalifah Abu Bakar pasukan kedua di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Dalam pasukan Khalid ini terdapat pahlawan-pahlawan Anshar dan Muhajirin. Di antara mereka terdapat Al-Barra’ bin Malik Al-Anshary, dan beberapa pendekar muslim lainnya.
Pasukan Khalid bertemu dengan pasukan Musailamah di Yamamah. Pertempuran segera terjadi tak dapat dihindari. Belum lama kedua pasukan itu bertempur, ternyata pasukan Musailamah lebih unggul. Mereka dapat mendesak mundur pasukan Khalid dari posisinya, hingga pasukan Musailamah berhasil menyerbu sampai ke perkemahan Khalid bin Walid dan menghancurkan perkemahan itu. Bahkan istri Khalid nyaris terbunuh ketika itu, seandainya tidak sempat diselamatkan pengawal.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Khalid melompat ke tengah-tengah pasukannya dan mengubah susunan pasukan. Kaum Muhajirin, kaum Ansar dan prajurit yang terdiri dari anak-anak desa dipisah-pisahkannya menurut kelompok masing-masing. Tiap kelompok dikepalai salah seorang dari kelompoknya sendiri. Dengan begitu Khalid dapat mengetahui kesanggupan masing-masing kelompok, serta mengontrol di mana letak kelemahan tentara muslimin.

Kini kedua pasukan baku-hantam dan baku tebas dengan sengit dan mengerikan. Kaum muslimin memperlihatkan kemampuan yang belum diperlihatkan sebelumnya. Tentara Musailamah bertahan di medan tempur bagaikan gunung, kokoh dan kuat. Mereka tidak peduli walaupun kurban banyak jatuh di pihak mereka. Kaum muslimin memperlihatkan keberanian luar biasa, yang kalau dihitung-hitung sesungguhnya merupakan peristiwa yang sangat mengerikan.

Lihatlah Tsabit bin Qais yang memanggul bendera Anshar. Dia melilit tubuhnya dengan kain kafan, kemudian digalinya lobang setinggi betis. Lalu dia turun ke dalam lobang itu. Dia bertahan di lubang itu mengibarkan bendera kaumnya sampai tewas sebagai syuhada.

Zaid bin Khattab, saudara Umar bin Khattab, memanggil kaum muslimin, “Wahai kaum muslimin, bertempurlah dengan gigih! Tewaskan musuh-musuh kalian dan terus maju! Wahai manusia! Demi Allah! Saya tidak akan berbicara lagi sesudah ini sampai Musailamah dihancurkan, atau saya syahid menemui Allah. Saya akan diperlihatkan kepada Allah bukti bahwa saya betul-betul syahid.” Kemudian dia maju menyerang musuh, bertempur sampai tewas sebagai syuhada.

Lain pula dengan Salim, maula Abu Hudzaifah, pembawa bendera kaum Muhajirin. Kaumnya khawatir dia lemah atau takut. Kata mereka kepada Salim, “Kami sangsi dengan keberanian Anda menghadapi musuh.”

Jawab Salim, “Jika kalian sangsi terhadap saya, percuma saya menjadi pembawa bendera Al-Qur’an” Kemudian dia menyerbu musuh-musuh Allah dengan berani sehingga ia tewas pula sebagai syuhada.

Tetapi kepahlawanan mereka belum seberapa dibandingkan dengan kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik. Ketika Khalid melihat api pertempuran semakin berkobar, dia berpaling kepada Al-Barra’. Kata Khalid memerintah, “Kerahkan mereka, hai pemuda Anshar!”
Al-Barra’ berteriak memanggil kaum Anshar, “Hai kaum Anshar! Jangan kalian berpikir-pikir hendak kembali ke Madinah. Tidak ada lag! Madinah sesudah hari ini. Ingatlah kepada Allah semata-mata kemudian ingat surga”. Sesudah begitu, dia maju mendesak kaum musyrikin, diikuti prajurit Anshar. Pedangnya menari lincah menebas kuduk musuh-musuh Allah.

Melihat prajuritnya banyak berguguran, Musailamah dan kawan-kawan menjadi gentar. Karena itu mereka lari berlindung dalam sebuah perkebunan. Kebun itu kemudian terkenal dalam sejarah dengan nama “kebun maut”, karena banyaknya manusia yang terbunuh dalam kebun itu.

Kebun maut itu adalah tempat lari terakhir bagi Musailamah dan tentaranya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Musailamah dan puluhan ribu tentaranya mengunci pintu rapat-rapat dari dalam. Mereka bertahan dalam kebun itu seolah-olah dalam benteng. Dari puncak pagar mereka menghujani kaum muslimin yang berusaha masuk kebun dengan panah.
Kata Al-Barra’, “Angkat saya dengan gala dan lindungi saya dengan perisai dari panah-panah musuh. Sesudah itu lemparkan saya ke dalam kebun di dekat pintu. Biarlah saya syahid untuk membukakan pintu bagi kalian.”

Dalam sekejap Al-Barra’ sudah berada di atas sebatang gala. Tubuhnya enteng, karena awaknya kurus kecil. Sepuluh orang pemanah melemparkannya ke dalam kebun maut. Al-Barra’ meluncur di atas ribuan tentara Musailamah. Kehadirannya menyebabkan mereka ngeri bagaikan disambar petir di siang bolong. Sementara itu Al-Barra’ sudah berhasil memukul tewas sepuluh orang penjaga pintu. Al-Barra’ segera membukakan pintu bagi kaum muslimin. Namun begitu, Al-Barra’ tak luput dari sentuhan pedang dan goresan panah yang menyebabkan sembilan buah luka menganga di tubuhnya.

Kaum muslimin tumpah ruah menyerbu ke dalam kebun maut. Pedang mereka berkelebat di kuduk orang-orang murtad. Lebih kurang dua puluh ribu orang korban yang tewas di pihak mereka. Termasuk pemimpin mereka, Musailamah Al-Kadzdzab.
Al-Barra’ segera dinaikkan kawan-kawannya ke atas kendaraan untuk diobati. Sebulan lamanya Khalid merawat dan mengobati Al-Barra’ sampai Allah menyembuhkan luka-lukanya. Dia memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah memberi kemenangan bagi kaum muslimin.

Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari sangat merindukan kematian sebagai syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di kebun maut. Maka sejak itu dia selalu menceburkan diri dalam peperangan untuk mencapai cita-cita besarnya, dan karena rindu hendak segera bertemu dengan nabinya yang mulia.

Ketika perang penaklukan kota Tustar di Persia, tentara Persia berlindung dalam sebuah puri. Puri itu merupakan benteng yang kokoh bagi tentara Persia. Temboknya tinggi, besar, pintu-pintunya kuat dan kokoh. Kaum muslimin mengepung Puri dengan ketat. Setelah mereka terkepung begitu lama, akhirnya mereka mendapat kesulitan. Mereka mengurkan kait-kait besi yang panas membara dari puncak pilar untuk mengait tentara kaum muslimin. Tentara muslimin yang terkait mereka angkat ke atas, adakalanya langsung tewas atau pingsan.

Mujur bagi Anas bin Malik, dia terkait oleh pengait berapi itu. Kemudian Al-Barra’ saudaranya melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya. Tangan Al-Barra’ terbakar dan melepuh memegang pengait yang panas membara. Tetapi dia tidak peduli asal saudaranya lepas dari pengait itu. Kemudian dia berhasil turun dengan jari-jari tangannya tanpa daging. Dalam perang Tustar ini dia mendoa kepada Allah semoga diberi rezeki sebagai syuhada. Allah memperkenankan doanya. Dia syahid menemui Allah dengan senyum bahagia.

Semoga Allah menjadikan wajahnya gemerlapan di surga, dan menyejukkan pandangannya menemani nabinya, Muhammad SAW dalam ridha-Nya. Amiin.

Sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW terjemah Suwarun min Hayaatis Shahabat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...