Tuesday, November 29, 2011

the little boy's dream

There was a little boy. A country boy, who lives far from the hectic city life. It was just the usual school day.


He waited by the side road, waiting for the old man with his trishaw (beca) to come. He was just an ordinary man, but the boy looked up to him and very impressed by the way this old man lead his life. Every time this old man picked him up he will always come with a big heart, smiling and humming his random songs along the way to school.

In this little boy heart, he dreamed of becoming a man like this old man. Enjoying his every minute of his life for the sake of Allah swt. So free, so light hearted, so generous with his smile...

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -

Monday, November 21, 2011

who's being unfair to whom?


 [By the time all of us were at our place, we couldn't stop frowning and make us more confuse]

Song of the day: Better Days [D-Clique]

I just feel like getting this out of my chest.

Before getting to the real story, let me tell you the background. Since I am currently involved with the project that's located at the tallest building in the country, as a muslim, we still need to perform our daily 5 times prayer. Besides the musolla located at level 13, our floor level is also being equipped with a very small musolla that could fit alhamdulillah 4-5 people at one time. Throughout these 6 months, I only been to the 13th floor, once with unnie shaqifah. Not that I don't fancy going there, but it would be better to pray together with the other team member of the same floor.

So, the 6 months continue to roll on and it has been a very pleasant experience to pray zuhur and asar together, and each of us will take turns to lead the prayer. Sometimes, the other member from the other team joined us as well and expand the crowd, but the space is still very limited. Alhamdulillah, by the time it is 1.30 pm or 4.30 pm, people will start to queue up to perform their prayer.

But today, that pleasantness turn into a heart stabbing incident. There was only 4 of us in the musolla, and as usual, we did pray together. During our pray, we realized that the door opened and closed very frequently. And with that we understand that the queue outside is rather long. Thus, after dua and salam, I headed straight for the door and leave the musolla, only to be told off by the other member from the other team to get our ourselves to the other musolla if we wanted to pray jamaah!

In silence, inside, I was --> "pppfffttt..?!"

But, I refrain myself, as even Rasulullah saw never teach us to do that.

"Why? (kenape?)" I said, with very innocent face and voice tone.
"Yeah, all of u need to go to the other surau, not this one", she replied
"But why?", still making those innocent face and voice even though I feel like gulping on a grenade.
"yeah, because you are being unfair to us!"
"why? why unfair?"
and the conversation just stop there, as she went inside the musolla, and my other team member follow me suit behind me, out from the musolla (sambil kerut2 dahi, dan terpinga2 and frowning).

I thought I was the only one, but all four of us were dumbstruck on how that feeling, way of thinking or way of talking from a muslim to another muslim was like a bulldozer of rudeness. I understand that she may need to queue up in order to perform her prayer, but with the situation of having small area to share on, couldn't you be more understanding and more patience? Is there a need to get everyone out and get the place to yourself only? Is it wrong to take turns and perform our responsibility in the best possible way with the limited resources available. Even then, is it wrong to perform our prayer together, because we wanted to get those 27x of rewards? What is the different with the situation of performing solat alone when there are another 3 people who also performing their prayers individually, and performing the prayer together in unity (all four together)? Yes! You will receive more chance of getting more reward from Allah swt! It only take around 10 - 15 mins the most, and after doa, we will get out of the musolla with discipline. None of us (the three of us) would do make up there, or taking time on wearing our hijab. We are not that kind of people ok! So, what's the need to throw those tantrum to us? =.="

May Allah swt one day open all of our hearts and become a kind person to the others. Because one day Allah swt will take our soul, and it will be questioned. I didn't say that we are any better from the others because we perform our prayer together (since I'm not dead yet, and don't even know if I have the chance to enter the jannah), but, I think it would be nice if you treat the others just like what you want the others to treat you. If they did something wrong or munkar, there's always a nice method on how to "tegur", isn't it? ^.^, may Allah swt bless us all and give us the peace that we always need every time we want to seek Allah's pleasure in our life. insyAllah...

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
- daie_soleh & hanifmarwa -

Friday, November 18, 2011

We are Sorry because We are Your Parent

 Everyday, we are being chocked with shocking news that are pasted on the headline. News like baby dumping, human trafficking, prostitution, homosexuality, merempit, drugs, smoking, robbery, thieves, pick pocket, and many other social problem that occur in the country, which involves various type of people at various age.

 And it is so common that every time these things happen, we (the observer) tend to only blame it on how she/he was being raised up and by who. And that would bring us to their parents. The blame will always be towards them isn't it?

 "Anak siapa lah nie? Perangai buruk betul!"

 "Kurang ajar punya budak. Ni mesti mak bapak tak reti ajar"

 dan macam-macam lagi cemuhan yang kita mungkin penah lontar. And then, today, I saw in my fb newsfeed something that really hit the mind hard and touches the heart...

Kelas fardu Ain semalam memberi satu impak yg kuat. Ustazah berpesan kpd kami, seandainya kalian mempunyai ibubapa, kasihanilah mereka. Bila mereka sakit tunjukkan keprihatinan yg tinggi.

Semasa kalian kecil dan sakit mereka sangat mengasihani dan sgt prihatin akan kalian. Seandainya ibubapa kalian dalam keaadaan nazak bisikkan ditelinga mereka bahawa kalian memaafkan mereka.

Mereka mungkin telah tidak membesarkan kalian mengikut syariat yg di tentukan Allah swt. Maka itu satu beban berat yg terpaksa mereka jawab dihadapan Allah swt. Kata ustazah lagi, mungkin byk dosa2 yg terpaksa mereka lakukan dalam membesarkan kalian. Mereka mungkin telah meninggalkan sembahyang fardu kerana mencari nafkah membesarkan kalian. Mungkin mereka mencari nafkah yg haram hanya utk mencukupkan keperluan kalian.

Mereka mungkin tidak sempat belajar Fardu Ain semata2 kerana memenuhi tuntutan keperluan kalian. Jika tak sempat bersua kerana tinggal jauh dari mereka, pastikan anda memaafkannya melalui telefon. Biar meraka dengar pengakuan kalian bhw kalian sebagai anak2nya telah memafkan mereka. Mudah2an apabila kalian memaafkan mereka tatkala nazaknya, Allah akan permudahkan bg roh mereka untuk keluar.

Full Credit to: Mak Cik Roslina Razaly ^.^, May Allah grant you and your family a jannah insyAllah...

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -

Open Thread #1

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -

Tuesday, November 15, 2011

I want to say it... I need to say it rite?

[warning] this post is super long... please be patient and take your time to read it ^.^, May Allah bless us all ^.^,

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Yang bermaksud: Dari Tamim ad-dari bahwa Nabi SAW bersabda:” ad-Din adalah nasihat”. Kami berkata untuk siapa? Rasul menjawab:” Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, untuk pemimpin Islam dan umatnya” (HR Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai’i)

Hadith ini terdapat dalam himpunan 4- hadith Imam An-Nawawi. Maka, ia adalah hadith dari pokok-pokok Islam yang penting.
Beberapa ulama' berkata:
Al-Hafizh Abu Nu'aim: "Hadith ini merangkumi masalah yang besar"
Muhammad bin Aslam Ath-Thusi: "Hadith ini merupakan satu per empat bahagian dari agama"
Ibnu Rajab: "Fiqih berputar pada lima hadith... diantaranya hadith nasihat ini"
Mujhidin bin Al-Arabi: "Tidak ada kesempurnaan akhlak yang lebih terliti, dan agung melebihi nasihat"

Allah swt juga berfirman:

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(Surah At-Taubah 91)

Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya ridha untukmu tiga hal, dan juga benci bagimu tiga hal: Ridha untukmu jika menyembahnya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berselisih, dan saling nasihat menasihati terhadap orang yang Allah beri kedudukan memerintah urusanmu. Dan Allah membenci, ungkapan katanya, banyak tanya dan menyia-nyiakan harta”
(HR Muslim).

Dari Jarir berkata:” saya membai’at Rasulullah SAW untuk menegakkan shalat, membayar zakat dan memberi nasihat pada setiap muslim.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Malahan, memberi nasihat merupakan amalan para Nabi.

Nabi Nuh:

"Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”. “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”
(Surah Al-A’raaf 61-62).

Nabi Hud pula:
 “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”
(Surah Al-A’raaf 67- 68).

Nabi Salleh pula bagaimana?:
Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”
(Surah Al-A’raaf 79).

Tidak kurang juga Nabi Syu'aib:
Maka Syu`aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”
(Surah Al-A’raaf 93).

Jadi, apa significant nya kepada kita?

Begini, kita lihat dengan lebih mendalam lagi perihal ini.

Nasihat, uish, perkataan yang sering kali difahami sebagai perbuatan yang selalu dibuat oleh orang-orang yang baik jeee... tut tut tut (baca sambil menggelengkan kepala, tutup mata dan mulut muncung ke hadapan).

Nasihat ini, datangnya dari perkataan "nash" (bukan penyanyi tu, tapi bunyi lebih kurang ^.^), yang bererti halus, bersih dan murni. Yang antonimnya adalah: curah atau kotor. Jadi, jika dikatakan nasihat, ia bererti, ucapan yang dikeluarkan itu, harus jauh dari kecurangan atau pembohongan dan juga motivasi kotor. Dalam kata panjangnya, nasihat merupakan ungkapan-ungkapan kehendak untuk melakukan kebaikan kepada objek atau orang yang diberi nasihat itu.

Ibnu Shalah berkata: "Nasihat adalah kata-kata yang merangkumi perbuatan seseorang yang memberi nasihat kepada orang yang diberi nasihat dalam bentuk iradah dan perbuatan"

Ia juga disamakan seperti "al-rijalu nashaha tsaub"... (mak aih, arab lagi ^.^), yang bermaksud seorang lelaki yang menjahit bajunya/kainnya. Maka, orang yang memberi nasihat ini, adalah seolah-olah seperti orang-orang yang menjahid lubang-lubang yang terdapat pada bajunya yang koyak atau lopong. Kiranya, dia melakukan sesuatu yang baik pada kainnya, dan supaya dia juga bisa memakainya dengan baik dan sempurna.

Dalam hadith ini, terdapat beberapa bahagian nasihat ini diberi dan ditujukan.

1) Nasihat kepada Allah
Ini tidak bermakna nasihat tersebut diberikan kepada Allah swt, tetapi, ia beerti:

  • Mentauhidkan Allah dengan sifat Kamal dan Jalal
  • Menyucikan Allah swt dari segala kemusyrikan
  • Iklas kepada Allah swt dalam beramal
  • Menjauhi kemaksiatan 
  • Mentaati dan mencitaiNya
  • berjihad terhadap orang-orang yang mengingkariNya

2) Nasihat kepada Rasulullah saw
Seperti nasihat kepada Allah, dalam hal nasihat kepada Rasul, ialah:

  • Mengimani Rasulullah saw dan semua yang disampaikannya
  • Mencintai, menghormati dan menghidupkan sunnahnya
  • menyebarkan ilmunya
  • mencintai orang yang mencintainya
  • membenci dan memerangi orang yang membenci dan memeranginya
  • mencontohi akhlaqnya
  • mengikuti adabnya
  • mencintai keluarga dan sahabatnya

3) Nasihat kepada pemimpin umat islam

  • membantunya dalam kebenaran dan mentaatinya
  • mengingatkan dan menyadarkan jika lalai dan salah dengan penuh kelembutan dan penghormatan
  • mendoakan untuk kebaikan pemimpin-pemimpin umat islam

4) Nasihat kepada umat islam adalah dengan:

  • mengaharkan mereka kepada islam dan membimbingnya
  • menututpu aib umat islam
  • mencintai mereka sebagaimana mencintai dirinya
  • membenci bagi mereka apa yang dibenci bagi dirinya dari keburukan 
  • mendoakan untuk mereka di dunia dan akhirat
  • menyingkarkan sesuatu yang membahayakan umat islam
  • mengutamakan yang fakir
  • mengajari yang belum mengetahui tentang islam
  • menyedarkan kesalahannya dengan penuh kelembutan
  • menolong mereka dalam kebaikan dan takwa

Jika melihat makna dan ruang lingkut nasihat maka semua orang amat memerlukan nasihat, baik menerima nasihat atu memberi nasihat. Kerana nasihat adalah perbuatan penyedaran atas kelalaian manusa dan penyempurnaat terhadap kekurangan-kekurangannya. Dan orang yang menolak nasihat dan marah apabila dinasihati, mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kebaikan, tidak ingin maju, tertipu dan sombong. Dan salah satu bentuk nasihat yang harus diutamakan adalah memberi nasihat kepada orang yang memintanya.
Rasulullah saw bersabda:
" Jika salah seorang saudaramu meminta nasihat, maka, berilah nasihat dan mudahkanlah dalam memberi" (Hadith Riwayat Bukhari)

Nasihat adalah prinsip dasar dalam kehidupan umat islam, kerana kehidupan umat ini dibangunkan di atas dasar ukhuwwah islamiyyah dan tolong menolong antara satu sama lain. Maka nasihat adalah bentuk yang konkrit yang terhasil dari ukhuwwah dan sifat tolong menolong. Walaupun begitu, nasihat harus dilakukkan dengan penuh ikhlas, sesuai dengan makna nasihat tu. Malahan jika inginkan nasihat tersebut sampai kepada sasaran, ia harus disampaikan dengan cara yang terbaik, iaitu harus ada kelembutan dan kecintaan. Jika nasihat tersebut melibatkan keaiban diri yang akan menerima, maka penyampaiannya harus secara rahsia.

why? why? and why?!

bukan mudah ingin memberi nasihat. malah majoriti dari kita merasakan ianya sesuatu yang ingin dielakkan! "kalau aku duduk bawah tempurung lagi bagus", atau "a..la.. bia lah. dia mesti dah tau apa hukumnya, dan apa yang terbaik untuk dirinya. takkan lah tak tau. pfft" atau "ish..nk ckp ke tak eh.. ish.. nnt kalau dia terasa cam ne? ish...tp nnt kalau akau ditanya dengan Allah, aku nk jawab ape? ish..ish..ish..." adalah beberapa dilemma dan pemikiran yang sering bermain di minda kita betul tak?

Sebenarnya, nasihat merupakan aktiviti para nabi, seperti yang telah dinyatakan di ayat di-atas. Tidaklah perbuatan yang dilakukan oleh para Nabi kecuali, ia adalah perbuatan yang utama. Nasihat juga merupakan tiang Islam yang paling pokok sekali.
Abu Bakar Al-Muzani berkata: " Kelebihan Abu Bakar RA atas sahabat yang lain bukan pada saum dan solatnya, tetapi pada sesuatu yang ada pada hatinya, iaitu mencintai kerana Allah, dan memberi nasihat kepada makhluknya."
Ibnu Mubarak pernah ditanya:
"Amal apakah yang paling utama?"
Beliau menjawab: "Memberi nasihat kerana Allah"
Nah...betulkan?! Nasihat itu suatu perkara yang penting dalam pandangan Islam sehingga saling nasihat menasihati harus saling dibudayakan oleh umat Islam. Hal ini kerana, tiada seorang pun yang sempurna sehingga ketika kita melihat saudara kita lalai, maka kita wajib memberi nasihat padanya. Begitu juga yang sebaliknya.

Seperti yang dikatakan tadi, nasihat bukan sahaja untuk umat Islam, malahan pemimpin yang memimpin umat Islam juga termasuk dalam list penerima nasihat. Dalam sejarah, bisa kita lihat antara pemimpim-pemimpin umat yang menerima nasihat dengan baik. Malahan, mereka megucapkan terima kasih kepada mereka yang memberi nasihat.

Umar Al-Khattab mengatakan: "Semoga Allah merahmati seseorang yang memberitahukan aibku".

Suatu hari, seseorang berkata kepada Umar: "Bertaqwalah engkau!"
Maka, mendengar ungkapa tersebut, yang lain yang berada di situ, mengherdik dan mengatakan: " Engkau mengatakan kepada Amirul Mukminin, bertaqwalah!"
Tetapi, Umar Al-Khattab mencegah dan berkata: "Tidak ada kebaikan padamu jika engkau tidak mengatakan ungkapan tersebut, dan tidak ada kebaikan bagi kami jika tidak mendengarkannya."

Hal yang sama berlaku di saat Umar ingin mengikut berperang melawan Persia, sebahagian sahabat melarang kerana penyertaannya dalam sesuatu peperangan akan memberi kesan yang buruk dan merbahaya terhadap umat Islam. Maka, Umar menerima nasihat tersebut.

Maka, terlihat bahawa nasihat merupakan prinsip dasar dalam kehidupan umat Islam kerana kehidupan kita dibangun atas dasar ukhuwwah Islamiyyah dan sikap saling tolong menolong. Maka nasihat adalah bentuk yang konkrit dari ukhuwah dan tolong menolong tersebut. Namun, dalam usaha memberi nasihat, ia haruslah dilakukan dengan niat yang iklas kerana Allah swt, tidak mencari populariti, kemahsyuran dan motivasi rendah yang lainnya. Ini adalah kerana nasihat adalah agama, dan dalam melaksanakan agama, hati kita harus ikhlas kerana Allah swt.

Dalam memberi nasihat juga, ia harus dilakukan dengan baik dan bijaksana. Nasihat bukanlah bertujuan membuka aib sesorang di hadapan umum, kerana nasihat adalah perbaikan tetapi membuka aib adalah satu kerosakan. Kerana itu, dalam memberi nasihat, ia harus dijauhkan dari perbuatan yang kasar dan keras. Semakin lembut nasihat tersebut diber, semakin mudah ia diterima ia diterima oleh hati. Sepertimana yang telah disebut dalam firman Allah swt:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”
(Surah Ali-Imran 159).

Diceritakan di masa kekuasaan Bani Abasiah, ada seorang lelaki yang memberi nasihat kepada al-Makmun, kemudian ia masuk istana dan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, tetapi dengan cara yang kasar. Maka berkata al-Ma’mun: ”Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu kepada orang yang lebih jelek dariku. Allah mengutus Musa dan Harun as kepada Fir’aun dan Allah berfirman, artinya: ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”
(Surah Thaaha 44).

Begitulah nasihat yang seharusnya diberi dengan kata-kata yang baik sehingga ianya mudah untuk diterima dan dilaksanakan. Sedangkan ungkapan yang kasar akan menyakitkan dan menyebabkan permusuhan. Sifat orang yang beriman adalah memberi nasihat dan menutup aib sahabatnya, manakala sifat orang yang fasik akan membiarkan kesalahan temannya dan membuka aibnya.

Seseorang yang hari ini memberi nasihat, mungkin sahaja di hari esok akan mendapat nasihat, kerana nasihat tidak pernah terikat pada orang-orang tertentu dan pekerjaan tertentu. Dan nasihat diperlukan kerana manusia pada lazimnya memiliki karakterisktik yang sering melakukan kesalahan dan lupa. Sehingga ketika dia pada hari ini lupa atau salah, maka yang lain haru s mengingatkan. Begitu juga orang yang hari ini memberi nasihat, mungkin juga di hari esok, dia akan lupa atau salah sehingga harus dinasihati dan diingatkan.

Betapa pentingnya nasihat ini, sampai imam Asy-Syafi'ie berkata mengenai surah al-'Asr: "Jika saja Allah swt hanya menurunkan surah Al-'Asr, maka, sudah cukuplah suran ini sebagai pedoman untuk manusia."

Ketika Umar Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, beliau menulis surat kepada imam Hassan Al-Basri, agar memberi nasihat dan menceritakan sifat-sifat pemimpin yang adil. Maka, Imam Hassan Al-Basri membalas suratnya yang berbunyi:
"Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah swt menjadikan pemimpin untuk:

  • meluruskan orang yang menyimpang
  • mengembalikan arah bagi yang berdosa
  • memperbaiki yang rosak
  • memberi kekuatan kepada yang lemah
  • menegakkan keadilan bagi yang zalim
  • menyedarkan yang lalai

Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, seperti penggembala yang penuh kasih sayang atas gembalaannya, yang mengiringnya ke tempat penggembalaan yang baik, menjauhkan dari bahaya yang mengancamnya, memeliharanya dari bintang yang buas, dan menjaganya dari panas terik dan hujan"

Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin seperti ayah yang bertanggungjawab. Lembut terhadap anaknya. BEkerja untuk anak-anaknya saat masih kecil, mengajarkan mereka dan mengurus keperluan hidupnya dan menabung untuk mereka setelah matinya.

Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, seperti ubu yang lembut terhadap anaknya, mengandung dan melahirkannya dengan susah payah, mengasuhnya ketika kecil, ikut berjaga ketika anaknya bangun malam, dan ikut tenang ketika anaknya tenang. Suatu saat menyusuinya, pada saat yang lain melepaskannya. Merasa senang dengan kesihatannya dan rasa berduka dengan sakitnya.

Pemimpin wahai Amirul Mukminin, seperti hati dengan anggota badan.Anggota badan akan baik jika hatinya baik dan anggota badan akan rosak jika hatinya rosak.

Pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin adalah orang yang berdiri di antara Allah dan hambaNya, mendengar firman Allah dan memperdengarkannya, mengenal Allah dan memperkenalkannya, dipimpin Allah dan memimpin mereka. Jangan sampai engkau wahai Amirul Mukminin, seperti hamba yang diberi amanah Allah ibarat budak yang diberi amanah oleh majuikannya tentang harta dan keluarga, kemudian menyia-nyiakan harta dan menghancurkan keluarga, membuat miskin anggota keluarga dan membuang harta benda.

Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya, Allah menurunkan hudud (hukuman) agar menyadarkan orang dari perbuatan kotor dan keji. Bagaimana jika hal itu dilakukan oleh orang yang mesti menegakkannya? Dan Allah menurunkan qisas sebagai jaminan kehidupan bagi hambaNya, bagaimana jika yang memimpin melakukan pembunuhan yang mesti menegakkan qisas kepada mereka?

Ingatlah wahai Amirul Mukminin akan kematian dan sesudahnya, sedikitnya temanmu dan pembelamu di sana. Maka engkau hendaklah mempersiapkan bekal untuk kematian dan kehidupan sesudahnya, iaitu di hari yang besar"

Sumber: dakwatuna(dot)com

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -

Wednesday, November 9, 2011

Kambing Coklat Mega Super

Ada sebuah cerita yang cukup menarik mengenai kambing qurban yang mudah-mudahan dapat meningkatkan semangat bekorban kita pada tahun ini. Mari kita mendengar ceritanya:

Ku hentikan kereta di hujung kandang, tempat haiwan-haiwan qurban dijual. Saat pintu kereta aku dibuka, bau yang tidak enak memenuhi rongga hidungku, dan dengan spontan, aku menutupnya dengan sapu tangan. Suasana di tempat itu, sangat ramai, dan dari para penjual terlihat mereka-mereka yang hanya berkain pelekat, sehingga ibu-ibu yang bertudung seperti baru habis majlis ilmu, tidak terkecuali juga anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat haiwan yang akan diqurbankan pada Aidul Adha nanti. Ini merupakan sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak dalam menjiwai pengorbanan Nabi Allah Ibrahim dan Nabi Ismail.

Aku masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang sedang asyik bermuamalah memilih haiwan yang akan disembelih di saat Qurban nnati. Mata ku tertuju kepada seekor kambing coklat, yang bertanduk panjang dan saiz badannya lebih besar dari kambing-kambing di sekitarnya.

"Berapa harga kabing itu bang?" ujarku menunjuk pada kambing coklat tersebut.

"Yang coklat itu yang terbesar bang. Kambing Mega Super dua juta rupiah, tidak kurang" kata si pedagang sambil mempromosikan kammbingnya, dan tetap melaiyani calon pembeli yang lain.

"Tak boleh murah lagi ke bang?" kataku, cuba membuat rundingan/tawaran.

"Tidak kurang, tidak lebih. Sekarang harga barang-barang serba mahal", kata si pedagang,bertahan.

"Satu juta lima ratus ribu ya?", aku melakukan penawaran pertama.

"Maaf bang, terlalu murah", ujarnya selamba.

Aku berkira-kira, apakah akan terus melakukan penawaran terendah dengan harapan si pedagang akan beruban pendiriannya dengan menurunkan harga.

"Ok bang, bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku.

"Masih terlalu murah pak", ujarnya, tetap juga dengan pendiriannya.

"Yang sedang mahalkan harga minyak bang. Kenapa kambing juga ikut naik?", ujarku berdalih mencuba melakukan penawaran termurah.

"Memanglah bang, walaupun kambing tak minum minya, tapi dia tidak mampu datang ke sini sendiri. Masih perlu untuk diangkut dengan lori bang. dan Lori bahan bakarnya bukan rumput." terang si pedagang panjang lebar.

Dalam hati aku berkata: "tegar juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah dikemukakannya dari awal tadi".
Pandangan aku beralik ke kambing yang lain yang lebih kecil dari si coklat tadi. Kalau harga yang lainnya cuma beza 500 ribu rupiah, bagus juga. Kebetulan selepas ke tempat penjual kambing ini, aku ingin ke bengkel kereta. Untuk mengganti tayar belakang yang sudah semakin nipis bunganya. Dengan duit lebihan membeli kambing ini, boleh juga aku gunakan untuk menambah duit yang akan dibayar bila mengganti tayar nanti. Harga tayar pun sudah mahal sekarang.

"Kalau yang belang hitam putih itu, berapa bang?" kataku kemudian.

"Kalau yang itu, Super biasa. Seekor satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah", katanya.

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang atuk yang menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian yang dia pakai sudah lusuh, tetapi, wajahnya masik kelihatan segar.

"Gagah sungguh kambing tu. Berapa harganya cik?" katanya kagum.

"Dua juta tidak kurang tidak lebih tok", kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan atuk ini.

"Mahal sungguh harganya", kata atuk tadi. "Boleh ditawar kan?", lanjutnya, juga mencuba untuk menawar.

"Cari kambing yang lain sajalah tuk", si pedagang terlihat semakin malas untuk melayan.

"Owh tidak encik. Saya inginkan qurban yang terbaik tahun ini. Duitku insyAllah cukup untuk membayarnya." katanya, tetap bersemangat dan seraya mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku seluarnya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu dibukanya. Enam belas lembar wang seratus ribuan dan sembilan lembar wang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

"Ini dua juta rupiah cik. Kambingnya dihantar ke rumah kan cik?", jawabnya mantap tetapi tetap juga bersahaja.

Si pedagang kambing terkejut, dan tidak terkecuali juga aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya, si pedagang meneruma wang yang diberikan si atuk tadi, dan kemudian dihitungnya perlahan selembar demi selembar wang tersebut.

"Tuk, duitnya lebih lima puluh ribu rupiah", si pedangang menghulurkan selembar lima puluh ribuan kepada atuk tadi.

"Eh, kos penghantarannya tiada ya?", si atuk seakan-akan sudah tahu wang yang diberikannya itu sememangnya lebih.

"Dua juta sudah termasuk kos kiriman", si pedagang yang cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke atuk tadi. "Mahu dihantar ke mana pak cik?" (tiba-tiba panggilan atuk berubah menjadi pak cik)

"Alhamdulillah, lebih lima puluh ribu ini, boleh ditabung lagi" kata si atuk sambil menerimanya. "Tolong hantar ke desa dekat itu ya. Sesampainya di belakang Masjid Baiturrahman, tanya saja rumahnya Pak Cik Sutrimo yang sudah pencen dari pegawai Pemda Pasir Mukti. InsyAllah, anak-anak di sana sudah kenal"

Setelah selesai bermuamalah, dan membayar apa yang telah disepakatinya, si atuk berjalan ke arah sebuah basikal tua yang disandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari kereta milikku. Perlahan ia diangkat dari sandaran, kemudian dengan kuat dikayuhnya dengan semangat. Entah persaan apa lagi yang dapat kurasakan saat iut, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Atuk tua yang sudah pencen dari pegawai Pemda yang hanya berkenderaan sebuah basikal buruk, sanggum membeli haiwan qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu berapa jumlah wang pencen yang diterimanya setiap bulan. Tetapi, yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman, tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah. Rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pegawai pencen yang bertahap rendah.

Yang pasti secara harta, sangatlah jauh jika dibandingkan dengan apa yang aku bisa peroleh. Yang dengannya, aku mampu membeli rumah di kawasan yang cukup mewah. Yang mampu membeli kenderaan roda empat yang harga tayarnya cukup membeli kambing Mega Super, yang mampu mempunyai hobi menunggang kereta besar dan memilikinya. Yang mampu mengumpul "raket-raket" yang hanya digunakan untuk bersukan sebanyak seminggu sekali. Yang mampu membeli haiwan Qurban dua ekor lembu sekaligus. Tapi apa yang aku fikirkan? Aku hanya ingin membeli haiwan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku, yang harganya tidak lebih dari servis rutin keretaku. Kenderaanku di dunia fana.

Sementara untuk kenderaanku di akhirat kelak, aku berfikir seribu kali saat membelinya. Ya Allah, Engkau Maha Membolak-balikkan hati manusia. Balikkan hati hambaMu yang tidak pernah bersyukur ini ke arah orang yang sentiasa mensyukuri nikmatMu.

di-edit & di-translate dari: www.griyamelati.net dan darulquran.sch.id

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -

Thursday, November 3, 2011

its not about money...money...money...

Some may feels really insecure when the figure in their bank started to depreciate, some may not even own a bank. (Tangan dkt dagu, rambut berserabut, muka masam macam cuka). Some doesn't feel anything when they bought 4-6 figure items and yet doesn't even know where to spend their money on (dagu naik tinggi-tinggi, kaki kanan atas kaki kiri, jari tapping dekat atas meja). Some are very calm, when there's people in need, they will give some money, when, they are in need, they will do their best to work for it, and ask Allah swt, who gave the rezeki to them. So, which one are we?

Today, I was very touched by the tazkirah jumaat posted on Aqsa Syarif's fb status, which wrote:

Sesungguhnya, setiap sumbangan / sedekah yang kita salurkan kepada yang memerlukan , tak kira besar atau kecil kuantitinya, akan dipandang dan dinilai oleh Allah...

Ada yang menyumbang RM1, RM 5, RM 50, bahkan ada yang menyumbang RM 1000 khas untuk qurban di Palestin.. Allahu akbar...

Merujuk pada ayat dalam gambar yang dilampirkan, manusia tidak akan mendapat hakikat kebajikan selagi tidak mengeluarkan apa yang ia sayangi...
Manusia sayangkan hartanya, tetapi jika ia infaq harta itu di jalan Allah, insya allah itulah kebajikan sebenar...

Ingat kisah dua anak Nabi Adam a.s. , yang mana seorang daripada mereka mempersembah qurban yang paling baik daripada hartanya untuk Allah, dan seorang lagi hanya ala kadar sahaja... akhirnya Allah menerima qurban yang baik itu sahaja....

Dalam ayat yang lain surah Al-Hajj, ayat 37 , maksudnya :
(Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa dari kamu. Demikianlah Ia memudahkan binatang-binatang itu bagi kamu supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat nikmat petunjukNya. Dan sampaikanlah berita gembira (dengan balasan yang sebaik-baiknya) kepada orang-orang yang berusaha supaya baik amalnya)

Nah.... lihatlah... memang benar jika semakin banyak harta kita sumbangkan, semakin besar pahalanya... tetapi ingat, sumbangan walaupun sedikit, namun kerana keikhlasan hati menyumbang sesuatu yang disayangi, amalan itulah yang akan sampai pada Allah....

Akhir kata, jangan persoalkan apa Allah beri pada kita.. sebaliknya, kita persoal diri sendiri, apa yang kita telah beri demi Allah......
Wallahu a'lam... Wallahu waliyyut taufiiq...


p/s jadi, apa tunggu lagi, jom-jom sama-sama kita invest untuk akhirat ^.^, 

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^, - daie_soleh & hanifmarwa -

B for Bait Hasanah

Day 2 in Cairo, we woke up around 3-4 am in the morning. Unable to tell whether it is subuh or not, we search the internet (as the WiFi connection there was free ^.^). There were still a few minutes left before subuh, thus we decided to have a wash and get ready for our prayer together. It was a very quiet morning. In fact it was so quiet that not until midday we heard noises of cars and people chattering.

Since we only rent the condominium for a night, we decided to change our taste and tryout different environment at different part of the city. My dad did warned us, that the next destination won't be as quiet as Mukhattam. It would be very noisy, full of people, non-stop screaming of car horns and guess what? We were so lucky that we also came across a riot. There were people along the road and another riding a bus shouting at each other and pulling each others' head, clothes and other things that they can get their hands on. It was a good thing that we only booked the hotel without paying a single cents. When we see the riot, the first thing that came across our mind, is to get ourselves out of there. It wont be very pleasant to stay in a place where we can't have peace for our mind. So, we drove passed the hotel area with an intention of staying somewhere else (and the search took the whole day, until we were so worn out). Our driver for that day was Ustaz Jet, who has 14 years of experience around Cairo and its neighborhood. He brought us to a number of rumah negeri (which has its own history. It was said that the Eqypt's government gave the land for free to Malaysia because of the deed and the help that they receive from Malaysian student while Eqypt was on war or something). But, to our surprise, all of the rumah negeri was fully booked or full. So, the only choice that we have was to stay at Bait Hasanah. Initally it was very hard for us to make the decision, because the homestay was located on the third floor of the building, and we have a lot of heavy bags to bring of our own. And as I said in the previous post, this could cause serious back injury if we force to bring them on our own. With not much choice that we have, we decided to take it anyway, and alhamdulillah, it was a very pleasant stay. The room was beautiful and equipped with a toilet. Me and my dad carried our bags together, slowly and steadily. One of the reason that we chose Bait Hasanah was because of its background, who stayed in there and for what intention. Let me tell you a little bit about Bait Hasanah, and its history.

Bait Hasanah was build upon a good deed of a Malaysian Ustaz who organized an orphanage in Malaysia. However, instead of focusing on Malaysia only, he was thinking that maybe he could open an orphanage in Eqypt too, where he would bring some of the orphans from Malaysia to Eqypt, gave them education (how lucky are they to learn Arabic at such a young age), and give them shelther where they will be thought on how to cook and run a cafe/business. Initially, Bait Hasanah was located somewhere else before, but recently got re-located. The newly located Bait Hasanah consist of 4 storey high (i think or maybe 5, hehe.. not really sure) building, where the place rental cost was around 15,000 geneh (around RM 7,000). At the ground level/1st level, located the cafe' where Malaysian cuisine and delicacies were being cooked deliciously. You can even get Roti Canai or Roti Telur there ^.^, yummy~ The 2nd level is the girl's dormatory, and the 4th level for the guy's. And that left us with the third level that's reserved for the homestay. There are 5 rooms, each with different interior design, a shared kitchen, a toilet and a living room. Only our room have a toilet in it.

Alhamdulillah, among all the places, Allah swt located us to a place where we could help those people in need. Getting to know them was like a jewel that could never be replaced by anything else. And looking at their journey in life, they taught us to always be thankful for what we are and what we have. And during our journey on a plane to cairo a few days ago, we meet a group of girls and boys, who's age around 9-15 years old, and Allah swt has fated us to meet again in Bait Hasanah. And only then that I knew, that they were an orphan.

p/s during our journey to bait hasanah, we stop by Masjid Imam As-Syafie, and inside there, located a Tomb where the body lays. It was a quiet area, however, there were a few mothers who were so poor and sick. Her hands was a little crocked ( I suspect it was athritis), and her back was hunched badly. It was a norm to give them some money, usually 1 geneh or 2 (which equivalent to 50 cent to RM 1). May Allah swt blessed them with good health and iman.

to be continued...

untuk kebaikan, harus Ikhlas dan nekad ^.^,
 - daie_soleh & hanifmarwa -
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...